• Home
  • Posts RSS
  • Comments RSS
  • Edit
Blue Orange Green Pink Purple

Membawa Cinta

Apakah kau menyukai puisi tentang pagi ? Dia dingin namun bila kau membiasakan diri dengannya maka diam-diam ia akan hangat. Pagi ini seperti pagi lain bagi saya. Pagi selalu dingin...rutinitas sepeti biasa, terkadang juga lupa berdoa semoga hari itu berjalan luar biasa. Saya mencandui cinta yang dibawanya...dingin tapi hangat. Bagaimana dengan pagimu, kawan hati ?

Tiap Pagi

Kalau hati yang patah itu seperti sayap maka jadilah ia sayap yang baik, sayap yang membawaku terbang lebih jauh lebih tinggi. Pagi ini malaikat membangun aku, sinar surya yang diam-diam menerobos. Aku hangat dan dalam.

Dengar aku membisikkan kata ini padamu,"Selamat pagi cinta, udara disini selalu cerah. Bagaimana denganmu ?".

Aku ingin diam saja dalam redup redup suaranya. Teh hangat dan roti bakar, tiap pagi. Aku mengingatmu kawan, kawan hatiku. Semoga cinta menjagamu. Memeluk hangat menyelimuti kau dengan sinar. Seperti aku dikamar ini. Dalam labirin yang tak kunjung usai ini.

Tahukah kau...
Aku ingat kau tiap pagi
Read More 0 comments | Originally written by Smaragdina | Links to this post | edit post

Cerita Ini Ceritaku

Cerita ini ceritaku
sama seperti kau punya kisah
bahwa bahagia adalah bila berdua
bahwa sepi adalah sendiri
aku bilang, terserah karena dalam ceritaku bahagia dan sepi cuma skenario yang berganti-ganti
tidak karena ada dua orang, tiga orang, satu orang saja...

Ceritaku adalah prosa bebas
aku pemain segala karakter dan jiwaku kulepas pada kalimat-kalimat dangkal yang angkuh
itu kau yang bilang dangkal
bahwa aku ingin bebas, ingin lepas dari kekang dan istal-istal dari jati dan mahogani
sambil berkata aku serupa melayang, besi baja disepatuku tak mampu jadi beban
lari lari ke hutan seberang.

Cerita yang tidak semacam dongengmu
yakin aku kau tak mau dengar ini itu
bahwa aku ingin bisa ini itu
ingin merasai ini itu
sama seperti si ini- si itu.

Ini bukan khayalan-khayalan bentukan hormonal kimiawi
keinginan bukan semata milikmu, wahai tuan
aku punya sepuluh seratus puluh ribu
jangan!! jangan bilang aku tak mampu karena kita dicipta beda
kau dengan sesuatu itu dan aku dengan beberapa ini
huh hah.

Ceritaku bukan tentang rumput hijau segar yang sengaja kau bibitkan untukku
ia cerita tentang apa yang kuamati dari mata kecil dibalik duga-duga akan kata bersayap tentang betapa tuan sayang akan memberi yang terbaik dan betapa aku adalah budak paling cantik.

Malam ini aku akan pergi, menuntut dunia akan skenario-skenario yang sudah aku ciptakan dalam beberapa malam kemarin di tempatmu.
Ya ya, dunia ini milikku juga milikmu pun iya.
Kita bersama-sama Tuan !
Bersama sama jadi Tuan dan Puan


ps: Selamat Hari Kartini, kawan perempuan ! Semoga tak hanya hari ini suaramu suaraku sauara kita seperti menggema! Lawan, walau hanya sendirian!
Read More 0 comments | Originally written by Smaragdina | Links to this post | edit post

Quiz

Get to know yourself better

Your view on yourself: You are intelligent, honest and sweet. You are friendly to everybody and don't like conflict. Because you're so cheerful and fun people are naturally attracted to you and like to talk to you.

The type of girlfriend/boyfriend you are looking for: You like serious, smart and determined people. You don't judge a book by its cover, so good-looking people aren't necessarily your style. This makes you an attractive person in many people's eyes.

Your readiness to commit to a relationship: You are ready to commit as soon as you meet the right person. And you believe you will pretty much know as soon as you might that person.

The seriousness of your love: Your have very sensible tactics when approaching the opposite sex. In many ways people find your straightforwardness attractive, so you will find yourself with plenty of dates.

Your views on education: Education is very important in life. You want to study hard and learn as much as you can.

The right job for you: You're a practical person and will choose a secure job with a steady income. Knowing what you like to do is important. Find a regular job doing just that and you'll be set for life.

How do you view success: You are confident that you will be successful in your chosen career and nothing will stop you from trying.

What are you most afraid of: You are afraid of things that you cannot control. Sometimes you show your anger to cover up how you feel.

Who is your true self: You are full of energy and confidence. You are unpredictable, with moods changing as quickly as an ocean. You might occasionally be calm and still, but never for long.

I found this quiz and i took it. Just for fun. Still the thinking crossed my mind, is it me or the quiz who know me better ? Huh ! The same thing when i try so damn hard to believe on psychic reading, fortune teller, Ponari Sweat, or that-new-in-town dukun Mbak Nur, or the-ketik-jodoh-spasi-nama thing. And when it comes to the clear state, it is sooo obvious now to tell one similar motive for me, for you, for humankind even: is to be recognize. Am I ? Do you ?
Read More 0 comments | Originally written by Smaragdina | Links to this post | edit post

Jurnal Yogya

Untuk Dinda, Dita, Idun, dan Di...

Hari I “Aku Adalah Nyek”


Tas marun kecil yang biasa saya bawa bepergian telah penuh dengan macam-macam keperluan. Pakaian beberapa potong, alat mandi, make-up seperlunya, berbagai macam perkabelan, dan rasa senang. Kamera tergantung dibadan dan hape sudah dikantong. Uang ? Ah, sangat seadanya. Karcis PP Lodaya malam menuju ke Yogya sudah di dompet. Saya menghilang dari jalur peredaran Dipati Ukur-Pahlawan-Dago sejenak. Toh tak akan ada yang merasa kehilangan.

Stasiun sudah didepan dan pacar mengantar dengan kurang rela ( rupanya dia juga butuh liburan ). Malam itu saya sendiri dengan kaki yang kedinginan diterpa AC kereta. Saya bertanya heran,”Kok bisa di kereta bau got?”. Beuh rupanya bau ketiak pemuda yang duduk di sebelah. Sungguh tidak beradab, mampu membeli tiket kereta berpendingin udara tapi tak mampu apa beli wangi-wangian badan ?! Minyak nyong-nyong gituh ?! Tidur kurang nyenyak karena masup angin. Kampong kali !!

Sejak akan berangkat saya telah memikirkan bagaimana caranya membuat kesan yang baik pada sahabat yang telah lama tak ditemui. Saya ingin menjadi diri sendiri yang alami yang seperti mereka kenal dahulu. Begitulah pada akhirnya saya tidak bisa mengelabui rasa canggung setelah hampir 5 tahun tidak bertemu. Taulah 5 tahun itu tidak singkat, perubahan sudah disana-sini, pikiran kesana-kemari. Dijemput di Stasiun Kota jam 5 subuh oleh Dinda dan Dita, saya hanya sedikit tersenyum dan berusaha menghalau dingin dan canggung dengan banyak coleteh tanya sana tanya sini.

Dikamar sewaan merekalah saya menginap selama disana. Gratisan pertama. Saya berharap akan ditraktiran makan-makan enak oleh teman-teman yang ternyata secara kebetulan baru saja diwisuda. Gratisan kedua. Ahahaha. Oportunis sejati-lah namanya dana terbatas.
Oke, sementara itu saya masih berusaha berceloteh ria di motor tunggangan saya dan Dinda, padahal tau kalo terus ngomong di udara sedingin subuh itu bagai menambah sekam pada api bagi tubuh saya yang telah masup angin semalaman. Ingin kentut tapi tak bisa tut tut. Jadilah kembung.

“Jadi cemane kabar k,Nyek?” Dinda atau Dita saya lupa siapa yang bertanya. Nyek...begitu ketika saya langsung hangat. Panggilan akrab pada saya oleh sahabat-sahabat mencairkan kebekuan subuh itu. Bagaimana bisa saya lelah mencari-cari jawaban bagi kecanggungan ini bila ia sebenarnya hanya pada kata itu. Setelahnya kami bicara sampai pagi. Hangat sehangat ia yang timbul di ufuk sana. Begitulah.

Bermain. Bermain-main kata malam itu.
Lentera merah, abu arang, kopi joss, sate kerang.
Bisik-bisik Yogya seperti suara,”jangan tidur malam ini”.
Jalan-jalan kitaran Malioboro sambil cerita-cerita.
Ya ya jangan tidur karena aku akan ajak kau keliling kota
-hsd-


Hari II “Potret”

Kami berempat memakai dua motor saling berboncengan. Siang itu panas dan sungguh tidak cocok untuk dijadikan hari wisata. Namun demi mengambil beberapa gambar bagus kami bepergian 15 menitan dari kostan Dinda dan Dita menuju Komplek Candi Prambanan. Oya, perkenalkan satu lagi kawan saya, Tea. Bekal payung check, air minum check, makanan kecil check, kamera check. Brum brum brum...dari jauh Roro Jonggang anggun diterpa matahari. Panas terik. Langit indah. Alamat akan dapat gambar bagus. Kami senyum senang.

Masuk ke komplek itu dan mulai mengambil gambar. Masih panas, langit masih biru putih. Beberapa sudah dapat potret bagus dan mulai mendung, hujan setitik-setitik. Duh, ini gak beres. Rencana akan ke Keraton Ratu Boko ambil gambar disana di-cancel.

Hujan deras kami hajar. Motor masih jalan terus. Lapar gak bisa ditahan. Saya kesal karena cuaca begitu ekstrim di Yogya, namun karena kemarin juga panas hujan jadi saya sudah lumayan terbiasa. Padahal judul awalnya saya kabur dari Bandung adalah karena bosan di Bandung hujan mulu. Sudahlah. Akhirnya makan ayam betutu di daerah Seturan. Mulailah bicara-bicara haram.

Ini liburan kawan dan saya sudah antisipasi sebelumnya untuk tidak obrol-obrol yang kira-kira berpotensi besar membuat liburan jadi kaco. Gak bisa dihindari memang, mulut ini sudah berminyak jadi licin gak bisa berhenti. Yogya hujan tapi jadi panas penuh diskusi dengan kawan-kawan. Tuker-tukeran apa yang tau apa yang tidak tau. Yah begitulah, namanya juga lama gak jumpa.

Sampai di kostan lagi kami me-resume gambar yang berhasil diambil tadi. Puas. Beberapa gambar bagus sudah saya upload. Beberapa perlu ditambah atau dikurangi. Saya selalu bangga kalau dalam beberapa gambar yang ada saya didalamnya dipuji dengan,”bagus banget”, “ih suka deh”, atau “cantiknya”. Jumawa tak beralasan. Padahal yang seharusnya bangga adalah sang penjepret gambar, orang dibalik potret itu, tukang bikin saya keliatan bagus di gambar hasil jepretannya. Sebagian besar foto yang ada saya didalamnya saya percayakan pada Dinda. Jadi harusnya pada dialah pujian itu ditujukan, bukan pada saya yang cuman salah satu objeknya. Saya sendiri suka terhadap foto, menyukai –me dan –di J. Semoga kawan mengerti bahasa ngaco saya ini ya ahaha.

Mungkin tidak saya saja yang lupa daratan terhadap pujian, yang melihat potret hanya dari objek yang berada didalamnya. Ah osong komong, jadi lupa pada pada si penjepret potret nan pandai sehingga didalamnya saya terlihat seperti barang licin nan menarik. Hilang ingatan padanya, pada makna gambar didalamnya. Bila memang demikian mungkin saya harus kaji ulang rasa jumawa tak beralasan tadi. Mungkin anda juga seperti saya ? Atau mungkin jauh lebih baik daripada saya ?

Ada mata liar dalam lensa.
Menterjemah kata pada kilatan gambar-gambar.
Ukur-ukur besarnya, ukur banyak cahaya yang akan diguna.
Arah sana-sini. “Coba senyum dikit, gigi jangan terlalu lebar”, “ya, tangan dipinggang”, “tungging dikit”, “oke bagus”.
Lalu.... Preeett ! –hsd-

Hari III “Hujan Paling Lucu”

Formasi kami berubah lagi hari ini. Kali ini ditambah dua orang teman kampus Dinda sebagai penunjuk jalan untuk mengunjungi sebuah desa. Ini adalah perkampungan baru yang warganya pindah dari desa lama yang terkena gempa Yogya beberapa tahun lalu. Dikenal dengan desa kubah “Dome Village” atau masyarakat sana menyebut dengan desa Teletubbies. Saya pernah melihat tayangan di TV tentang desa ini dan penasaran bagaimana betul rasanya hidup didalam kubah, seperti manusia iglo di kutub sana.

Hujan mulai rintik ketika kami pergi, pasrahlah namanya musim sudah gak jelas. Seingat saya, desa ini berada satu arah jalan menuju Prambanan dan Keraton Ratu Boko. Ternyata jalan masuk ke desa ini masuk agak kedalam, seperti tersembunyi di belakang petak sawah penduduk dan kebun mereka. Sampailah disana. Kesan pertama ? Duhh lutunaaaa...seperti taman bermain besar. Katanya rumah bentuk kubah ini tahan gempa, cara buatnya juga bukan ‘dibangun’ melainkan kubah dicetak menyerupai bentuk jadinya. Cetakannya dari balon loh. Canggih. Datang deh kesana bila ada waktu ! Masyarakatnya ramah karena desa ini memang dijadikan desa wisata, kita boleh masuk rumahnya dan melihat-lihat. Hmm, sejenak seperti di dunia lain. Seperti jadi kurcaci mengunjungi rumahnya Lala, Tinkie Winkie, Poo, Dipsy, dan kawan-kawannya.

Hujan makin deras saja dan kami berteduh di salah satu rumah warga yang menerima kami dengan hangatnya. Makan keripik bayam, jajan khas desa ini, sambil menunggu hujan agak reda. Fun !! Belum pernah rasanya merasakan hujan seasik ini. Jadi makin ngerasa dalam film kartun deh. Belum lagi ketika beberapa anak desa sana melintasi kami sambil teriak-teriak...mandi hujan. Wuah senang sekali, pengen ikutan kalo gak inget badan agak udah kurang berasa karena masih masup angin.

Lama hujan belum juga berhenti, kami memutuskan menerobos hujan saja. Lecep boi! Di perjalanan banyak pohon tumbang, rupanya hujan kali ini anginnya kencang juga. Badai. Rencana ambil foto di persawahan gak jadi. Saya tertawa-tawa di perjalanan pulang, disemprot air yang dari mobil yang terlalu ngebut, sampai rasa pedih dimata karena make-up cantik luntur sukses membuat saya terkekeh sepanjang perjalanan pulang. Dita sang punggawa tunggangan kami ketika itu tak gentar menghadap hujan. Perempuan ini dikenal suka kebut-kebutan dijalan sejak dulu ahaha.

Fffh, hidup ini menawarkan banyak kejadian. Seketika dia hujan, sebentar kemudian kembali panas terik. Mengingat orang-orang yang tinggal di desa teletubbies yang ramah, anak-anak mereka yang terus ceria, saya jadi ikut semangat...mengapa harus saya khawatir dengan hujan bila ternyata ia bisa jadi menyenangkan ?!

Datang datanglah hujan
Jauh jauhlah panas yang jadi keringat
Datang datanglah lari ke muara
Biar aku tunggu disana
-hsd-

Hari IV “Life Ain’t A Holiday, Dear”

Akhirnya bertemu dengan manusia-manusia binal ini ehehe. Meet my really good friends, Idun dan Di ! Orang aneh dan tak pernah berkurang anehnya dari SMA dulu. Di baru saja diwisuda dan Idun masih seperti saya...dalam proses menuju kesana. Hihi. Di kostan Idun yang ntah kapan terakhir dibersihkan, saya agak risih...Idun sudah macam gipsy sekarang. Make up hitam hijau, badan kekar, muka sangar. Katanya dia gaul dengan scene kaum punk disana, jadi mohon maklum penampilan menyesuaikan keadaan. He.

Idun terutama, telah berubah banyak sekali menurut saya. Dia mencekoki saya dengan berbagai majalah-majalah yang diterbitkan secara individual oleh komunitas mereka. Kalo ndak salah mereka sebut zine. Kebanyakan membahas gaya hidup kalangan mereka sebagai manusia indie (?). Saya menemukan banyak istilah baru : bahwa vegetarian beda dengan vegan, ada yang namanya straightedge yang anti rokok, anti alkohol, dan anti hewan-hewanan, golongan sell out, dan macam-macam lainnya. Idun sedang mengirim email diluar rumah ketika saya dimintanya membaca macam-macam majalah tersebut.

Ternyata itulah mengapa ia meminta saya menginap di kostannya dan agak lama di Yogya. Idun banyak ingin bicara, yah tentang macam-macamlah. Kebanyakan Idun ingin mengetahui pendapat orang lain mengenai gaya hidup yang ia jalani sekarang, pendapat dari ‘luaran’ sana. Idun menganggap saya ‘orang luaran’. Tak apalah, toh memang kami tidak pernah sama. Persahabatanlah yang membuat kami terus selama ini.

Idun menyimpan banyak artikel tentang perempuan dan feminism selama ini. Saya sadar ternyata saya dan sahabat yang satu ini setidaknya mempunyai ketertarikan yang sama (akhirnya). Obrol-obrollah kami tentang macam-macam fenomena yang menggangu pikiran, tentang gaya hidup, tentang perempuan, sampai soal pacaran dan minuman keras. Lho ?! Iya gitu deh.

“Hidup ini keras, cuy !” Sudah terlalu sering saya dan mungkin juga anda mendengar atau mengucapkan kalimat ini. Terlalu sering hingga ia kekurangan makna aslinya. Sialnya pula, saya semakin banyak mendengar ini dalam liburan pelepas penat saya kali ini. Duuh memang sepertinya hidup tak mengenal libur. Tuhan kan tidak akan libur memberi cobaan yang bikin ketawa maupun menangis. Mungkin karena itulah hidup tetap jadi ironi, misteri, atau apalah itu namanya.

Obrolan dengan Idun jadi sampe pukul 1 malam itu, Di ditelpon untuk datang menginap bersama tapi katanya besok saja karena sudah kemalaman. Obrolan tentang kerasnya hidup, obrolan tentang jatuh bangun kami berdua...orang-orang yang berjumpa dengan takdirnya masing-masing. Saya tau hidup ini keras dan kadang tak bersahabat, namun dengan berbagi cerita saya merasa bahwa saya tidak sendirian diladang ini, struggling for what it will comes...which is nothing !
Read More 4 comments | Originally written by Smaragdina | Links to this post | edit post

Sisa

Sudah puas rasanya berencana dan tebar kata sana-sini pada sahabat bahwa saya akan mengunjungi Yogyakarta menemui mereka. Akhirnya jadi juga kesana, liburan rahasia. Spontanitas lebih sering mengalahkan kerutinan menulis jadwal rupanya. Setelah membeli tiket PP saya menghubungi Dinda, sahabat saya yang tinggal di Yogya untuk jadi tamu di kostannya. Dinda menyetujui untuk menjadi host dan guide saya selama liburan. Beruntungnya teman-teman sedang tidak terikat jadwal padat sehingga ada waktu untuk bertemu.

Ok tibalah saya di Yogya. Liburan berjalan lancar dan menyenangkan. Saya menemukan rindu dan semangat-semangat baru. Saya sebenarnya ingin bercerita tentang suasana dan keriangan disana, tapi toh itu artinya saya hanya mengulang memori tentang bertemu dan berpisah. Semua kembali pada lingkaran itu-itu saja. Saya tidak suka mengenang pada yang lalu. Bagaimanapun saya ingin berbagi cerita.

Liburan, dia seperti stasiun bagi jiwa saya yang pada akhir-akhir ini sedang keropos akhlak dan otak yang sedang karatan mengingat wajah-wajah kebaikan. Sudah lama saya tidak merasakan benar-benar liburan. Bilapun ada kesempatan pasti ada nyambi dengan tugas atau kepentingan lain. Begitulah. Meski begitu bukan berarti hidup saya tidak fun. Wuah, saya menikmatinya kok. Dia seperti taman bermain.

Mengapa Yogya ? Tidak taulah, saya sedang mengendarai kendaraan disisi hujan ketika di radio ada lagu Yogyakarta-nya KLA Project. Duh, saya ingat dengan teman lama yang sekarang banyak berada disana. Ingin rasanya bertemu mereka kembali. Akhirnya pergilah membeli tiket Lodaya dengan dana seadanya hahaha.

Melihat kembali muka-muka lama yang sempat mampir begitu lama dan betah di hati saya begitu menyejukkan. Bertemu dengan Dinda, Dita, Tea, dll. Berbicara tentang hidup empat setengah tahun belakangan yang kami jalani masing-masing dan bicara tentang rencana masa depan. Mereka telah berubah. Perubahan menjadi manusia yang saya rasanya lebih kagumi. Semoga beberapa topik diskusi kami beberapa hari itu bisa saya tulis disini nantinya.

Pertemuan perpisahan kehujanan kepanasan makan lalu biyek dan seterusnya...berputar-putar seperti lingkaran. Selalu begitu. Saya dikembalikan pada apa yang saya perbuat dahulu, tersambung saling berkaitan dengan siapa diri dan apa yang saya dapati sekarang ini.Akhirnya ketika saling mengucap salam perpisahan di stasiun Tugu lusa kemarin. Yang tersisa dari Yogya hanyalah rasa tulus menjadi sahabat.


ps: Terimakasih Dinda untuk My Sister's Keeper-nya. I know you wanted it but you gave me in the first place. Means alot cherie. Aku tujukan 'Jurnal Yogya' tulisan selanjutnya untukmu. ^_*
Read More 0 comments | Originally written by Smaragdina | Links to this post | edit post
Older Posts

SOME

  • Something About Me
      20-something, lovable when you really really get to know me :D, dark hair, red lipstik, bitchen, romantic comedy, law student, corny, artist, U2, French, don't believe in sensational crap yet love celebrity infotainment, food lover and never had trouble on weight...call me Hani.
  • Some Sites

    • Akal dan Kehendak
    • Indo European Languages

    Some Links

    • Bluestocking Journal
    • Brokoli Sehat
    • Dinda dan Kebun Rahasia
    • Hani on Daily
    • If It's Not Important...
    • SunDea
    • The Aroengbinang Project
    • Tobucil Bandung


  • Search






    • Home
    • Posts RSS
    • Comments RSS
    • Edit

    © Copyright SOME. All rights reserved.
    Designed by FTL Wordpress Themes | Bloggerized by FalconHive.com
    brought to you by Smashing Magazine

    Back to Top